Senin, 11 Juli 2011

[sekolah-kehidupan] [Tips Menulis] Belajar dari Hemmingway dan Hamka

Belajar dari Hemmingway dan Hamka

Oleh Nursalam AR

Dua persoalan terbesar dalam menulis adalah bagaimana memulai sebuah
tulisan dan mengakhirinya. Konon, Ernest Hemmingway–seorang sastrawan
Amerika peraih Nobel sastra atas karyanya The Old Man and The Sea
(sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko
Damono menjadi Lelaki Tua dan Laut)—punya kiat jitu untuk mengatasi
kevakuman ide.

Ia tidak akan menunggu ide atau inspirasi datang begitu saja dengan
bengong sepanjang hari. Ia memutuskan untuk menjemput ide dengan
mengetikkan apa saja yang terlintas di benaknya pada mesin ketiknya.
Apapun itu. Hingga lambat-laun berawal dari sebuah tulisan yang
kacau-balau, tak jelas juntrungannya akan menjadi tulisan yang
bermakna.

Awalnya memang sekedar kumpulan kata tak bermakna, namun semakin
digeber semakin lancar maka terbentuklah pola tulisan yang tertata.
Alhasil, setelah diedit dan diperbaiki di sana-sini, jadilah
karya-karya besar Hemmingway yang kita kenal seperti For Whom The Bell
Tolls dan The Snow On Kilimanjaro (keduanya pun sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia oleh Melani Budianta, istri penyair Eka
Budianta).

Apakah semua karya besar sastrawan yang tewas bunuh diri ini lahir
begitu saja dan sempurna sekali jadi? Tentu tidak. Persis seperti kata
Shakespeare,"Di dunia ini tidak ada karya yang baik yang sekali jadi."
Proses editing atau penyuntingan adalah elemen mutlak, sebuah
keniscayaan.

Jadi masih mencari ide dengan gaya konvensional bengong seharian atau
jalan-jalan? Kenapa tidak mencoba gaya menjemput ide-nya Oom
Hemmingway tersebut? Lebih produktif dan tentu saja irit ongkos.

Jika tulisan sudah sukses dimulai dan tuntas ditulis namun kita masih
merasa tulisan itu kering atau kaku, barangkali kita dapat berkaca
pada pengalaman seorang murid Buya Hamka yang beberapa puluh tahun
lalu juga mengalami problem yang sama. Ketika sang murid
mengkonsultasikan masalah tersebut kepada sang sastrawan kelahiran
Maninjau yang juga ulama besar Indonesia ini, Hamka—akronim dari nama
lengkapnya yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah—menanyakan bagaimana
proses kreatif sang murid dalam menyelesaikan tulisannya.

"Tentu saja saya memulai dengan menuliskan berdasarkan data yang sudah
terkumpul terlebih dulu, Buya," jawab sang murid dengan tersenyum
karena merasa itu pertanyaan yang terlalu sepele.

"Engkau salah," kata Hamka tersenyum bijak. "Cobalah tulis dari hatimu
dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan
apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia
mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar
tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta sisipkan data-data
pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif."

Ya, itu dia. Selama ini kita mungkin terlalu terfokus untuk menulis
melulu berdasarkan data yang terkumpul sehingga lalai menangkap
ide-ide yang berkelebat cepat. Sehingga ketika data terkumpul, ide itu
sudah menguap, kehilangan kesegarannya. Hingga yang berbicara adalah
tumpukan data yang kering dan kaku. Yang sama sekali tidak menyentuh
apalagi mencerahkan.

Hamka sendiri sudah membuktikan keampuhan kiatnya tersebut dengan
karya-karyanya mulai dari buku Tasawuf Modern, Tafsir Al-Azhar hingga
roman Di Bawah Lindungan Kabah atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
yang tak kehilangan daya argumentasi namun juga menghanyutkan perasaan
serta mencerahkan.

Nah, setelah tulisan sudah tuntas ditulis dengan mengindahkan
kiat-kiat di atas, "tinggalkan saja barang dua minggu, bersantailah
dengan bermain voli dengan tetangga", pesan guru kita yang ketiga,
Mohammad Diponegoro dalam bukunya Yuk Menulis Cerpen Yuk!

Almarhum penulis novel Siklus (pemenang hadiah sastra pada 1970-an)
ini —yang ber-setting di Taiwan meski ia sama sekali tak pernah pergi
ke Taiwan—menekankan pentingnya mengendapkan segala emosi dan perasaan
setelah merampungkan sebuah karya. Caranya dengan melakukan aktivitas
lain yang mengalihkan pikiran kita dari tulisan yang baru kita tulis.

Terkadang kita masih sering terkagum-kagum sendiri dengan tulisan yang
baru kita tulis lantas terbirit-birit mengirimkannya ke media baik
diposting di internet atau dikirim via pos. Andai kita endapkan
semuanya barang beberapa waktu kemudian kembali menghadapinya dengan
suatu sudut pandang lain barangkali kita akan mendapati banyak
"lubang" atau kesalahan dalam tulisan itu.

Seperti buah, tulisan juga perlu diperam. Mungkin tidak mesti selama
dua minggu seperti nasihat Mohammad Diponegoro dari Semarang itu.
Beberapa penulis seperti Pipiet Senja atau Helvy Tiana Rosa kabarnya
memeram tulisan mereka selama sekitar sepekan. Yang lain bisa jadi
hanya tiga hari atau bahkan satu jam saja. Sangat relatif memang.

Yang penting ketika kita mulai duduk kembali di depan komputer atau di
depan tumpukan draft naskah dengan pena di tangan, pikiran kita sudah
terbebas dari narsisme akan karya sendiri dan sudah objektif untuk
mulai mengedit. Percayalah, tak ada tulisan manusia yang langsung
sempurna hanya dalam sekali tulis! Hanya kitab suci buatan Tuhan yang
sedigjaya itu.

Lantas jika semua kiat ketiga guru tadi sudah diterapkan namun masih
saja tulisan kita ditolak redaksi atau gagal menang lomba? Alam
terkembang nan jadi guru, demikian pepatah bijak orang Minang. Semua
hal dapat dijadikan tempat belajar. Belajarlah dari para guru
kehidupan yang tak kunjung menyerah walau berkali-kali tulisan mereka
ditolak bahkan dihina redaktur media.

Toh, semua penulis besar seperti Goenawan Mohammad, Rendra, Pipiet
Senja, Andrea Hirata, Labibah Zain, Helvy Tiana Rosa, Nova Riyanti
Yusuf, Fira Basuki, Ayu Utami dll awalnya adalah pemula juga. Lakukan
korespondensi lewat surel (surat elektronik atau e-mail) atau milis,
blogwalking, dan selami perjuangan jatuh-bangun mereka dalam dunia
kepenulisan. Baca dan bedah karya-karya mereka.Copy the master adalah
keharusan tanpa harus menjadi plagiat. Cukup tiga kata saja: baca,
bedah dan tulis!

Jika anak-anak muda pencari cinta dalam reality show Katakan Cinta
yang dulu pernah berjaya di salah satu stasiun TV swasta bisa berkata
dengan lantang,"Love will find you if you try!", kita—para calon
penulis atau penulis pemula–tentu dapat bertekad untuk tetap gigih
menulis dengan slogan,"LUCK will find you if you TRY!"

--
www.nursalam.wordpress.com


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
sekolah-kehidupan-digest@yahoogroups.com
sekolah-kehidupan-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
sekolah-kehidupan-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 komentar:

Poskan Komentar