Senin, 11 Juli 2011

[sekolah-kehidupan] [Catcil] Ketika Bangku Bis Kota Terasa Mahal (kenangan 5 tahun lalu)

Ketika Bangku Bis Kota Terasa Mahal
Oleh Nursalam AR

Menjelang Ramadhan sebulan lagi (Juli 2011), saya teringat sebuah
kisah di awal Ramadhan lima tahun lalu.

Dulu dan kini berdesak-desakan dalam bis kota di jalanan Jakarta
adalah hal biasa. Terlebih pada jam-jam pulang kantor. Maka mendapat
"berkah" bangku kosong di saat itu adalah hal luar biasa. Meskipun
saat itu aku bukan pekerja kantoran (karena memilih kerja SOHO sebagai
penerjemah yang punya biro penerjemahan sendiri) tak ayal aku harus
terjebak pula jika ada urusan pekerjaan yang memaksa keluar rumah.
Seperti sore itu di hari-hari pertama Ramadhan dalam bis kota jurusan
Blok M-Kampung Melayu.

Sejak dari terminal Blok-M bis sudah mulai padat. Apalagi di jalan
Mampang Prapatan yang sedang ada proyek jalur busway menuju Ragunan.
Padat merayap, demikian istilah penyiar radio yang terdengar dari tape
mobil mewah yang bersisian jalan di sebelah bis. Penumpangnya hanya
dua orang saja, seorang lelaki muda berdasi dan wanita cantik dengan
busana kantor yang apik. Tertawa ceria di tengah kemacetan. Di
sebelahnya, bis yang kutumpangi, padat berjejal penumpang bak pindang
presto. Duh, senjangnya!

"Bis kota tua miring ke kiri oleh sesaknya penumpang. Aku terjepit di
tengah-tengah padatnya para penumpang yang bergelantungan…."

Aku jadi ingat syair lagunya Om Franky Sahilatua. Lumayan agak hafal
sedikit untuk menghilangkan jenuh menunggu kemacetan.

Mau ngobrol?

Rasanya wajah-wajah di sekitarku terlalu lelah dan mengantuk untuk
diajak bicara.

Mau baca?

Terlalu repot tanganku menjangkau ransel besar di dada (sengaja
ditaruh di depan agar tidak kecopetan) untuk mengaduk-aduk isinya,
mencari buku yang baru kubeli di Gramedia Melawai.

Mau tidur?

Panasnya minta ampun. AC (Angin Cendela) juga bertiup malas. Terlebih
bulan puasa begini yang rasanya dosa-dosa pun turut terbakar suhu
Jakarta yang konon menurut berita sekitar 30-33 derajat Celcius.

Alhasil, jadilah aku seperti puluhan penumpang lain: bergelantungan
sambil menatap sekeliling. Termasuk menatapi mobil-mobil mewah yang
berkali-kali umbar klakson. Menatapi tukang ngamen dan pedagang
asongan yang silih berganti naik-turun bis . Termasuk para peminta
dengan kotak amal untuk pembangunan mesjid yang entah di mana
letaknya.

"Kantor Pos!Kantor Pos!" teriak kenek dengan suara parau. Beberapa
orang penumpang turun di halte Kantor Pos Mampang. Seorang bapak
tergopoh-gopoh bangkit dari bangkunya. Sejak tadi ia tertidur. Pada
jam-jam ba'da Ashar di bulan puasa ini sudah merupakan pemandangan
umum orang tertidur di bis kota. Ia bergegas turun sambil ribut
mengetok-ketok atap bis dari alumunium. Bis yang hendak sedikit
beranjak kemudian tertahan mendadak.

"Siap-siap dong, Pak, dari tadi!" sembur kenek. Matanya mendelik.
Entahlah tak kulihat reaksi si bapak. Yang ada di sampingku adalah
bangku kosong di samping seorang anak muda.

Ya, sejak tadi bapak itu duduk di bangku bis samping tempatku berdiri.
Dan sekarang bangku itu kosong. Alhamdulillah, kududuki bangku itu
dengan gempita. Lumayanlah untuk sekedar memejamkan mata barang
beberapa waktu. Aku berniat turun di jembatan Ciliwung.

Dalam jarak dua halte di depan, naik serombongan lagi penumpang.
Tambah padat nian bis ini. Seorang gadis muda menyandang dua tas besar
menyesak masuk ke tengah-tengah dan berdiri persis di sampingku. Belum
lagi ia mengepit map tebal di dada. Kulirik sejenak.

Ah, masih muda, batinku. Jika sudah tua, mungkin aku rela melepaskan
bangku ini. Aku memang biasa mengalah kepada orang tua atau orang
cacat, sesama penumpang bis kota, untuk jatah bangku di bis kota.

Bis bergerak lagi, kencang. Kendati kadang harus tertahan mendadak
karena salipan kendaraan di depan atau kemacetan. Gadis itu tampak
kerepotan. Satu tasnya kini ditaruh di lantai bis.

Hmm…kasih duduk tidak ya? Tapi, ah, dia masih muda kok, pasti kuat.
Kalo tuaan dikit, aku kasih deh. Lagian capek kan menunggu hampir satu
jam dari Blok M ke Mampang hanya untuk satu bangku kosong. Demikian
batinku berperang.Satu sisi ingin mengalah, tapi rasanya badan ini
lelah betul.

Ah, Allah juga maklum kok, beramal tentu harus sesuai kemampuan,
batinku menjelajah mencari justifikasi.

Bis terus berjalan.

Menjelang studio Trans TV, ketika penumpang makin bertambah, tampak
betul gadis itu makin kerepotan. Ia berkali-kali melihat ke sekitar.
Termasuk ke arahku yang pura-pura ngantuk. Aku tentunya tidak ge-er
dilirik gadis yang lumayan manis itu. Tentu aku yakin bukan wajahku
yang biasa-biasa saja yang diliriknya tapi ya bangku bis ini! Ya,
bangku bis yang saat ini terasa sangat mahal bagiku. Yang kudapatkan
dengan peluh dan pegal menunggu dengan beban berat ransel di dada.

"Mbak, duduk sini aja!" Suara halus di sebelah mengejutkanku. Kulirik
dengan mata yang setengah mengantuk. Ini memang mengantuk betulan. Di
seberangku, seorang mahasiswi berkaus menggantung menyilakan si gadis
kantoran duduk.

"Eh, terima kasih ya!" Si Mbak itu duduk. Ia sempat pula
melirikku.Entah setajam apa, aku lekas melengos. Ada tombak ironi
menelusup ke dadaku. Kenapa aku yang laki-laki tak lebih rela
berkorban dibandingkan si mahasiswi mungil yang kini gantian berdiri
di sampingku?

Mungkin jika laki-laki lain yang mengalah demi si Mbak tadi aku tak
bakal merasa segundah ini. Meski sempat terbersit,"Ah, biar saja, toh
solidaritas sesama wanita!" Lagi-lagi justifikasi.

Selanjutnya tak perlulah kuceritakan lagi perasaanku dalam bis kota
hingga aku turun di tempat tujuan. Sore itu baru aku sadari makna
fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Yang jelas aku
kehilangan satu peluang berbuat baik. Tidak ada pembenaran yang lain.
Titik.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/05/ketika-bangku-bis-kota-terasa-mahal/
--
www.nursalam.wordpress.com


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
sekolah-kehidupan-digest@yahoogroups.com
sekolah-kehidupan-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
sekolah-kehidupan-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 komentar:

Poskan Komentar